Film ‘Guru Ngaji’ Siap Tayang di 2018


Momen perayaan lahirnya Nabi Muhammad dirayakan oleh umat Muslim dengan beragam cara. Salah satunya Chanex Ridhall Pictures yang merilis trailer pertama dari film drama religi berjudul ‘Guru Ngaji’ pasca momen perayaan Maulid Nabi, Selasa (5/12) melalui kanal Youtube mereka. Momen ini dianggap sangat pas dengan pesan dan semangat yang ditanamkan pada film ‘Guru Ngaji’.
Diproduseri oleh Rosa Rai Djalal yang sebelumnya menjadi Produser Film ‘Iqro: Petualangan Meraih Bintang’, trailer film ini menuturkan kisah tentang Mukri (Donny Damara) seorang guru ngaji di Desa Tempuran yang bekerja sampingan sebagai badut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sehari-hari, Mukri menjadi badut bersama Parmin (Ence Bagus), lelaki sederhana yang bercita-cita untuk membeli motor agar bisa mendapat perhatian Rahma (Andania Suri), perempuan Idamannya yang juga disukai oleh Yanto (Dodit Mulyanto).
Menurut Produser Film ‘Guru Ngaji, Rosa Rai Djalal, pihaknya sengaja merilis trailer pertama Film ‘Guru Ngaji’ pada momen perayaan Maulid Nabi terutama karena film ini erat kaitannya dengan islam serta didedikasikan bagi para Guru Ngaji di seluruh Indonesia. “Film ini mengangkat suka dan duka dalam keseharian seorang Guru Ngaji. Sebuah drama yang religius yang dibalut dengan sentuhan komedi sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Pada perayaan Maulid Nabi tahun ini, kami merilis trailer film yang kami dedikasikan untuk seluruh Guru Ngaji di Indonesia.”
“Kami ingin memotret kehidupan sehari-hari seorang guru ngaji dengan berbagai masalah yang mereka alami. Cerita yang ditampilkan dekat dengan penonton dan mungkin saja dialami oleh sebagian guru ngaji. Banyak sekali yang bisa diambil dari film ini terutama pesan moral tentang keikhlasan, istiqomah, kejujuran, persahabatan dan toleransi. Kami berharap film ‘Guru Ngaji’ bisa mendorong kita semua untuk semakin mengapresiasi para guru ngaji,” tutur Rosa.
Skenario film ‘Guru Ngaji’ ditulis oleh Alim Sudio bersama dengan Erwin, yang juga bertindak sebagai Sutradara. Aktor pendukung yang terlibat antara lain Dewi Irawan, Endah Laras, Ence Bagus, Verdi Solaiman, dan aktor cilik pendatang baru, Akinza. Film ini rencananya akan tayang di bioskop pada awal tahun 2018.

2-f91f4fec6e1158f6c5ccfad2af5c516c.jpg

instagram.com/mdpictures_official
Kamu yang senang dengan kisah romantis bakal dimanjakan dengan kehadiran film Ananta. Film yang mendapuk Michelle Ziudith sebagai pemeran utama ini akan membuatmu baper deh. Film ini berkisah tentang seorang bernama Tania, gadis cantik namun sulit bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
Kehidupan Ananta kemudian berubah setelah bertemu cowok polos dan lugu, Ananta. Kisah cinta pertemuan dua karakter yang berbeda ini akan tersuguh manis di layar lebar. Bakal tayang berbarengan dengan Sajen 3 Mei 2018, jangan lupa bawa tissue ya, sepanjang film kamu bakal berurai air mata. 

1-99c451f0c6cd21e3a6cdc858d1ad0605.jpginstagram.com/filmsajen
Awal bulan akan dibuka dengan film horor lho yang berjudul Sajen. Film horor satu ini tentu cukup dinanti-nantikan. Bercerita tentang desas desus kebiasaan memberikan sajen kepada arwah siswa di salah satu sekolah menengah atas yang membuat para siswa penasaran.
Film garapan Hanny R. Saputra ini siap membuat bulu kudukmu berdiri. Diperankan artis-artis muda yang sedang naik daun, seperti Amanda Manopo dan Angga Yunanda. Seberapa menyeramkan film yang rilis 3 Mei 2018 ini? Buktikan langsung di bioskop deh.




3-94df8e4380f57da094f82e6ba3876eec.jpginstagram.com/212movies
Mendekati bulan Ramadan, film Tanah Air dibanjiri genre religi. Salah satunya yang patut untuk ditonton adalah 212 The Power of Love. Film garapan Warna Pictures ini diangkat dari kisah nyata yang berlatarkan peristiwa aksi 212 di Monumen Nasional.
Film yang dibintangi Fauzi Baadilla ini akan menghadirkan pesan-pesan moral seperti cinta kasih terhadap sesama manusia dan ke Sang Pencipta. Wah, bisa ditonton bareng keluarga besar nih. 
Sinopsis Film Flight 555 (2018) 

Film Flight 555 akan mengisahkan tentang pelarian diri seorang pria bernama Putu, yang terpaksa pasrah kabur dari Bali menuju Jakarta atas tak setujunya dalam cintanya, dimana saang ayah yang menunjukkan jodohnya. Tapi saat ini dia harus pulang ke Bali karena ayahnya sakit keras. Suasana Bandara ramai seperti biasa, dan tambah ramai dengan adanya Flight Komo 555 tujuan Jakarta ke Denpasar.



Disana seorang pria yang mengaku dirinya adalah wakil rakyat, ada RYAN D’MASIV, ada tiga orang yaitu 1 orang kakek dan 2 orang nenek yang mau bertualang, ada cewek thailand yang seksi, ada cowok Bule yang Indonesianis, Ada pria gendut dan anaknya yg gendut, Ada pasangan Jepang yang mesra, dikit-dikit selfie berdua, Ada pria kekar binaragawan dan 3 orang mahasiswa, Ada Cowok Piercing, ada juga dua orang pria yaitu cowok Papua dan Cowok Sunda dan Ada pula Pria Misterius yg memakai kacamata hitam, mengenakan jaket tebal di musim panas dan membawa Koran.



Ternyata cowok papua dan cowok sunda tersebut, ingin menguasai pesawat dan mereka ingin merubah tujuan pesawat untuk menuju ke Papua, ditambah lagi Pria Misterius yang juga memperkeruh suasana di dalam pesawat tersebut. Seperti apakah keseruan kisahnya? Saksikan hanya dibioskop kesayangan anda.



Baca Juga : Film The Greatest Showman (2017), Film Last Minute Romance (2017)

Detail Film Flight 555 (2018)

Genre Film: Drama, Comedy

Sutradara Film: Raymond Handaya

Penulis Naskah Skenario : Isman Hs, Raymond Handaya

Produser Film: Doeke Rachmat, Niken Septikasari

Rumah Produksi Film: Citra Visual Sinema

Distributor Film: -

Box Office Budget: -

Tanggal Rilis Film: 18 Januari 2018

Durasi Film: - Menit

Negara Asal Film: Indonesia

Bahasa Film: Indonesia




Film Drama Indonesiay "Kalam Kalam Langit" bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai nilai Islam yang kuat di wilayah Lombok Barat. Niat baik itu ditentang oleh ayahnya yang selalu memberi peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren serta mendapatkan timbal balik berupa hadiah. Ja'far yang yang masih keci justru mendapatkan beasiswa dari sebuah produk yang ditawarkan pesantren.


Jafar kecil tumbuh hingga dewasa terus memperjuangkan cita cita dan cintanya. Ditengah tengah kehidupan pesantren dengan beragam karakter yang dimiliki oleh penghuninya. Santri pun juga manusia, ada saja manusia yang nyeleneh, tega menyuap untuk kepopularitasannya dan meggapai apa yang ia harapkan menjadi juara MTQ.

Review Film Kalam Kalam Langit (2016)

Film Religi Indonesia "Kalam alam Langit" merupakan film yang sangat menyentuh hati, dengan nilai religius yang terkandung didalamnya dapat membuat bagi siapa saja yang menontonnya dengan penuh khayat pasti bercucuran air mata. Perjuangan Ja'far demi meraih juara MTQ dilalui dengan banyaknya problematika masalah dan ada pihak pihak lain yang melakukan caar kotor demi meraih kemenangan.


Detail Cast and Crew Film Kalam Kalam Langit (2016)

Genre : Drama, Religi
Produser : Dian Permata Purnamasari, Asar Amar, Dhoni Ramadhan
Sutradara : Tarmizi Abka
Penulis Novel : Pipiet Senja
Penulis Skenario : Faozan Rizal
Pemain Film :

Elyzia Mulachela
Dimas Seto sebagai (Ja'far Dewasa)
Mathias Muchus sebagai (Ayah Ja'far)
Ibnu Jamil
Henidar Amroe
Herichan
Fauzan Smith
Meriza Febriani
Ade Firman Hakim

Tanggal Tayang : TBA 2016
Rumah Produksi : Putaar Films Production
MPAA : Bimbingan Orang Tua
Durasi : Menit
Language ; Indonesia
Negara : Indonesia

Image result for 3 Doa 3 Cinta.
Kisah filmnya berpusat pada tiga orang santri muda di sebuah pondok kecil di wilayah Bantul, Yogyakarta, yakni Huda (Saputra), Rian (Pratama), Syahid (Bagus). Mereka bertiga bersahabat baik serta memilikinya mimpi dan harapannya masing-masing. Huda ingin mencari ibundanya ke ibukota yang telah beberapa tahun meninggalkannya; Rian ingin melanjutkan usaha video syuting almarhum ayahnya; sementara Syahid dipusingkan dengan biaya pengobatan ayahnya yang tengah dirawat di rumah sakit. Ketiganya lalu menemukan jalannya masing-masing. Huda bertemu seorang penyanyi dangdut lokal bernama Dona Satelit (Sastrowardoyo) yang membantu mencarikan lokasi ibunya, Rian mendapat hadiah dari ibunya sebuah handycam yang ia gunakan untuk merekam keseharian mereka di pondokan, sementara Syahid yang frustasi dengan biaya pengobatan ayahnya memilih untuk bergabung bersama kelompok Islam radikal dengan skema besarnya.

Kisah filmnya sejak awal hingga akhir berjalan datar (menjemukan) tanpa adanya konflik yang berarti. Sineas tampak sekali hanya ingin menggambarkan keseharian para santri di pesantren namun tanpa adanya konflik yang menonjol menjadikan semua kisahnya menjadi serba tanggung. Tiga plot utamanya juga tidak mampu digali lebih dalam sehingga sulit untuk bersimpati dan berempati dengan tokoh-tokohnya. Masalah yang dihadapi Huda, Rian, dan Syahid dipaparkan begitu dangkal sehingga tidak memberi kesan bagi kita sebagai problem besar bagi mereka. Konflik cerita juga berjalan sendiri-sendiri, tidak berkaitan satu sama lain dengan eksekusi akhir yang terlalu mudah bahkan cenderung konyol. Tulisan (harapan) mereka di dinding belakang pesantren yang menjadi kunci plotnya juga tidak mendapatkan porsi yang memadai.

Konflik Syahid misalnya, sebenarnya berpotensi bisa digali lebih dalam namun informasi cerita dipaparkan begitu minim melalui beberapa adegan saja, yakni ayahnya yang sakit, “bule kafir” yang membeli tanah ayahnya, serta hubungan Syahid dengan kelompok Islam garis keras dengan skema besar yang tak jelas. Semuanya menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu kita jawab. Syahid yang telah bulat tekadnya untuk mati syahid (mungkin niatnya meledakkan diri bersama si bule) mendadak sirna setelah semua biaya pengobatan ayahnya ditanggung si bule. Masak sih masalah hidup atau mati bisa ditinggalkan semudah ini, organisasi teroris macam apa ini? Lalu aneh sekali jika Syahid tidak mencari tahu siapa orang yang telah menolong ayahnya. Selesai masalah ayahnya, mendadak Romo kyai, Huda, Rian, serta Syahid ditangkap polisi dan dituduh sebagai teroris. Apa pula ini? Kenapa hanya mereka yang ditangkap? Siapa yang mau percaya jika polisi melakukan tindakan gegabah seperti ini tanpa penyelidikan selayaknya?

Sementara masalah-masalah lain yang muncul, seperti skandal hubungan sesama jenis, ambisi Dona, asmara putri pak kyai, dan lainnya juga hanya tampak sebagai tempelan (kadang dipaksakan) tanpa bisa menyatu dengan plot keseluruhan. Kisah asmara antara Huda dan Dona yang pastinya diharapkan penonton muncul ternyata hanya sebatas angin lalu. Seluruhnya masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab akibat motif serta logika cerita yang lemah.

Tidak kalah buruknya adalah pencapaian teknisnya. Satu aspek yang boleh dibilang paling buruk (kasar) adalah pencapaian editingnya. Penyisipan beberapa adegan/shot pada alur cerita yang tengah berjalan kerap tak jelas maksud dan fungsinya. Pada sebuah adegan mendadak disisipi shot ketika Dona menelpon rekannya di Jakarta untuk meminta mencarikan alamat ibunda Huda. Kenapa shot ini tidak disajikan lebih awal? Apakah ini berarti sebelumnya Dona memakai uang Huda untuk kepentingannya? Semua masih tak jelas. Pada satu adegan ketika Rian menonton layar tancap di pasar malam mendadak dipotong (crosscutting) secara kasar dengan shot pelecehan seksual seorang santri senior pada seorang santri muda. Coba apa hubungan dua shot ini? Sineas juga berulang-kali bereksperimen menggunakan teknik long take, seperti pada adegan di depan makam yang memperlihatkan empat karakter bergantian dalam satu shot. Sebuah usaha inovatif yang tampak janggal (out of tone) terlebih pada satu momen frame dibiarkan kosong beberapa saat. Coba apa bedanya jika digunakan transisi shot biasa?

Naskah yang lemah serta terlalu dangkal menjadi kunci utama kegagalan 3 Doa 3 Cinta. Naskah yang buruk juga turut memperlemah penampilan para pemainnya. Tiga pemain utamanya tampak jelas terlalu tua untuk peran mereka. Sang bintang, Dian Sastrowardoyo yang kali ini tampil beda hanya muncul sebagai pemanis belaka. Latar pondokan yang kecil dan sepi juga sama sekali tidak mampu menghadirkan suasana pesantren yang diharapkan. Pesan moral? Hhmm… Anda bisa beri komentar sendiri. Sungguh amat disayangkan mengingat para pemain serta kru yang terlibat dalam film ini adalah orang-orang yang dianggap telah mapan di industri film kita. Sebagai kata penutup, 3 Doa 3 Cinta rasanya lebih pantas dan banyak bermanfaat jika dipertontonkan (road show) untuk murid-murid pesantren tingkat dasar dan menengah. Sebagai pecinta film, penulis menganggap film ini adalah satu bentuk pembodohan penonton serta merendahkan medium film itu sendiri.
 
Copyright © 2015 FILM INDONESIA