Terbaru, ada film "Sayap Sayap Patah" yang wajib kamu tonton di bioskop. Film ini sudah tayang per 18 Agustus 2022 kemarin.
Film ini terinspirasi dari kisah nyata. Tepatnya peristiwa kerusuhan berdarah di Mako Brimob pada 2018.
Berkisah tentang Adji (Nicholas Saputra), petugas kepolisian yang terjebak dalam kerusuhan tersebut. Terjadi sesuatu pada Adji yang menghancurkan impian hidup bahagia bersama sang istri, Nani (Ariel Tatum) yang sedang hamil.
Judul
"Sayap Sayap Patah"
Tayang
18 Agustus 2022
Durasi
1 jam 49 menit
Sutradara
Rudi Soedjarwo
Pemain
Nicholas Saputra, Ariel Tatum, Iwa K
Genre
Drama
Rating
5.7/10 (IMDb)
The Santri akan mengangkat nilai-nilai kaum santri dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren yang berbasis kemandirian kesederhanaan, toleransi serta kecintaan terhadap tanah air.
Menurut Imam Pituduh dari NU Channel, The Santri dipersembahkan sebagai wahana untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan keberadaan dunia santri dan pesantren yang memiliki pemahaman tentang Islam yang ramah, damai dan toleran dengan komitmen cinta tanah air, serta anti terhadap radikalisme dan terorisme.
Serta memotret kehidupan keberagamaan dan komunitas lintas iman, kemudian mempromosikannya.
Dalam trailer resmi, kisah itu berfokus pada kehidupan di sebuah pondok pesantren yang sedang mempersiapkan perayaan Hari Santri. Seorang guru menjanjikan bahwa enam orang santri terbaik akan diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat.
The Santri merupakan film yang diinisiasi PBNU melalui NU Channel bekerja sama dengan sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng dengan penata musik komposer Purwacaraka. Film ini akan dibintangi sejumlah pendatang baru seperti Azmi Askandar, Wirda Mansur, dan Veve Zulfikar.
SINOPSIS
Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat, Syirik dan Bid'ah.
Dengan sebuah kompas, dia menunjukkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman yang selama ini diyakini ke barat ternyata bukan menghadap ke Ka'bah di Mekah, melainkan ke Afrika. Usul itu kontan membuat para kiai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), meradang. Ahmad Dahlan, anak muda yang lima tahun menimba ilmu di Kota Mekah, dianggap membangkang aturan yang sudah berjalan selama berabad-abad lampau.
Walaupun usul perubahan arah kiblat ini ditolak, melalui suraunya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah. Ahmad Dahlan dianggap mengajarkan aliran sesat, menghasut dan merusak kewibawaan Keraton dan Masjid Besar.
Bukan sekali ini Ahmad Dahlan membuat para kyai naik darah.
Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat . Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di Kweekschool atau sekolah para bangsawan di Jetis, Yogyakarta.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Ganesha), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adhiswara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.
Film bertema kepahlawanan, yang berkisah tentang perjuangan Indonesia melawan penjajah, telah banyak diproduksi dan diangkat ke layar lebar. Namun perjuangan kemerdekaan lewat peran kaum agamis kurang terangkat, padahal kaum ini punya andil yang sangat besar. Hal ini disampaikan Rako Prijanto, sutradara film Sang Kiai dalam jumpa pers.
Sang Kiai merupakan sebuah film kolosal produksi Rapi Film yang mengangkat kisah perjuangan ulama karismatik pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yakni K.H. Hasyim Asy'arie (kakek dari K.H. Abudrrahman Wahid/Gus Dur). Beliau adalah tokoh kunci dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan pada era 1942-1947. Lewat "Resolusi Jihad", tokoh yang dijuluki Hadratus Syeikh atau Maha Guru ini mengimbau dan mengajak para santri pejuang untuk berjihad fisabilillah melawan penjajah yang kemudian melahirkan peristiwa perang besar yang kita kenal sebagai hari Pahlawan 10 November 1945.
Dalam film Sang Kiai, Ikranegara dan Christine Hakim memerankan tokoh sentral yakni K.H.Hasyim Asy'arie dan Nyai Kapu, istrinya. Sedangkan pemeran K.H. Wahid Hasyim (anak sang Kiai, ayah dari Gus Dur) adalah Agus Kuncoro. Mereka bertiga beradu akting dengan sederet aktor muda seperti Adipati Dolken (sebagai Harun, murid kesayangan Sang Kiai), Dimas Aditya (sebagai Husyein, penerjemah yang bekerja untuk tentara Jepang), dan Meriza Febriani (berperan sebagai Sari, istri Harun).
Untuk menghasilkan film yang benar-benar menggambarkan perjuangan kemerdekaan, tim produksi menggandeng aktris asal Jepang dan Belanda, yakni Suzuki Noburo (sebagai Kumakichi Harada), dan Andrew Trigg (sebagai Brigadir Mallaby). Sedangkan Bung Tomo diperankan oleh Ahmad Fathoni dan Gus Dur kecil diperankan oleh Ahmad Zidan.
Meski berkisah tentang perang kemerdekaan dan kiprah K.H. Hasyim Asy'arie, film ini tidak seserius film dokumenter. Ada unsur komedi dan tentu saja percintaan. Unsur komedi muncul dalam adegan saat salah satu santri tidak sholat berjamaah, kemudian dia dihukum oleh sang Kiai yang mengharuskannya mencium pantat sapi.
Kisah cinta, dituangkan dalam kisah cinta antara Harun dan Sari, juga antara Sang Kiai dengan istrinya, Nyai Kepu. Film ini juga menggambarkan kesetiaan Nyai Kepu dalam mendampingi suaminya di masa-masa sulit, sejak ditahan oleh Jepang, mengalami siksaan, hingga akhirnya meninggal. Christine Hakim sangat menjiwai perannya sehingga ia mengaku merasakan kehadiran Nyai Kepu di lokasi syuting, saat adegan Sang Kiai meninggal.
"Saya merasakan suasana yang haru saat itu. Apalagi sejak awal, saat saya datang ke pesantren Tebuireng dengan mengenakan kostum Nyai Kepu, para santri menyalami saya seolah-olah saya adalah Nyai Kepu," ungkap Cristine Hakim dalam jumpa pers.
Syuting film berlatar belakang tahun 1940-an ini mengambil lokasi di Kediri, Gondang, Magelang, Ambarawa, dan Semarang. Masa pengambilan gambarnya melibatkan 500 kru dan 5000 pemain. Syuting film berlangsung selama 60 hari dan penyelesaian dikerjakan selama 8 bulan. Namun, persiapannya lebih lama lagi, butuh waktu 2,5 tahun untuk proses pencarian informasi sejarah, pencarian lokasi yang sesuai, pemilihan pemain yang cocok, hingga proses perijinan kepada keluarga besar K.H. Hasyim Asy'arie.
Selain jadi "melek" sejarah, Anda juga akan terhibur oleh akting para aktror dan aktris di film ini, yang berhasil menggambarkan suasana perang kemerdekaan Indonesia tahun 1940-an. Anda akan dibuat geram oleh akting para aktor yang sukses memerankan kekejaman tentara Jepang, sekaligus menangis haru saat jasad Harun dan K.H. Hasyim Asy'arie berada dalam pelukan istri mereka.
Jenis Film : Drama
Produser : H.R. Dhoni Ramadhan, Hj. Dian Permata Purnamasari, Asad Amar
Sutradara : Tarmizi Abka
Penulis : Faozan Rizal
Produksi : Putaar Films Production
Casts :
Dimas Seto, Meriza Febriany, Ibnu Jamil, Elyzia Mulachela, Mathias Muchus, Henidar Amroe, Ade Firman Hakim
SINOPSIS
Ditentang Ayahnya yang selalu mengingatkan agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi popularitas dan mendapatkan hadiah, Ja'far kecil justru menerima tawaran beasiswa dari sebuah pondok pesantren.
Ternyata perjalanan cita cita Ja'far sangat berat dan berliku, dengan keadaan keluarga yang sulit, ayah sakit sakitan, Ja'far terus semangat mengejar mimpinya.
Bagaimana Ja'far kecil hingga dewasa memperjuangkan cita-cita dan Cintanya, ditengah kehidupan pondok pesantren dengan beragam karakter penghuninya. Ternyata santri pun manusia, ada saja yang nyeleneh, tega menyuap demi popularitas dan menggapai tujuannya sebagai juara MTQ.
Penasaran bagaimana Ja'far akhirnya berhasil meraih cita-cita, meskipun harus kehilangan muslimah yang di cintainya? Dan siapakan muslimah beruntung yang berhasil mendapatkan cinta Ja'far?
Rumah produksi Mr. Rius Production menggarap film drama religi berjudul Zharfa, yang mengangkat dua budaya Indonesia dan Malaysia.
Film yang dibintangi Kaka Azraff (Malysia), Donny Alamsyah, Betari Ayu, Shelomita, Piet Pagau, dan Anindi Zharfa itu bakal tayang pada akhir Januari 2019 mendatang di Indonesia dan Malaysia.
"Seperti kebanyakan film religi, menampilkan sisi islami yang kental. Sejak awal, film ini mengusung kolaborasi Indonesia dan Malayaia. Dua kultur berbeda bahasa berbeda tapi memiliki makna yang sama dan berbeda budaya namun satu rumpun," ujar Ario Sagantoro, Creative Produser Zharfa saat jumpa pera di Hard Rock Cafe, Jakarta Selatan, Senin (12/11).
Ario menyebutkan, drama religi yang dikemas dalam film Zharfa berbeda, karena tak hanya berlatar belakang drama religi, film ini juga sarat akan nilai moral. Apalagi Kaka Azraff akan beradu akting dengan Donny Alamsyah, yang kerap main film laga.
"Tapi tentunya dengan kemasan menarik dan banyak gimik-gimik berbeda yang kami coba satukan menjadi tontonan yang menarik. Tentunya dengan kemampuan pemain dan kru," tambah Ario.
Zharfa bercerita mengenai kisah perjalanan hijrah seorang wanita, lengkap dengan berbagai cobaan yang dilaluinya.
Judul Zharfa sendiri diambil dari nama tokoh utama di film ini. Zharfa dikisahkan sebagai wanita yang terdampar di sebuah pesantren di pedalaman Jawa Barat. Zharfa dikirim ke pesantren tersebut lantaran kerap bertengkar dengan ayah tirinya.
Jenis Film : Drama
Produser : Robert Ronny, Sumarsono
Sutradara : Ron Widodo
Penulis : Andre Supangat, Robert Ronny
Produksi :Inspiration Pictures
Casts : Rayn Wijaya, Febby Rastanty, Rania Putrisari, Tissa Biani, Mathias Muchus, Aldy
Rialdy, Qausar Harta, Kenny Austin, Christine Hakim, Ria Irawan, Arie Kriting
SINOPSIS
Meski ber ayah kan seorang banser, Rahabi tidak bangga. Di kampus, Rahabi bersahabat dengan Markus, umat kristiani, Hitu yang bercita-cita menjadi Banser, Sayid calon novelis, dan Tiara yang juga bermasalah dengan keluarga nya. Mereka membentuk grup acapella dengan nama Rujak Acapella. Rahabi ingin Rujak acapella sukses demi membiayai kuliah kedokteran Rara, adiknya.
Jalan itu terbuka ketika Aldi, seorang producer musik menawari rekaman, dengan syarat Aisha harus bergabung di Rujak acapella. Aisha sendiri adalah mantan penyanyi remaja terkenal yang memutuskan tidak akan pernah bernyanyi lagi.
Demi mengajak Aisha bergabung, Rahabi bersedia melakukan apa saja yang diminta oleh Aisha. Keluarga dan keempat sahabat Rahabi secara perlahan tapi pasti melihat perubahan sikap Rahabi. Rahabi akhirnya harus memilih, apakah Ia harus terus mengejar impian nya dengan resiko kehilangan semua orang yang penting dalam hidupnya..
'Haji Kecil' bercerita tentang seorang gadis berusia 9 tahun bernama Kasniza (Sandrinna Michelle) yang merindukan kehadiran sang nenek di hidupnya. Ia pun mengagumi Romlah (Aty Cancer), seorang nenek yang bekerja sebagai tukang cuci di rumahnya.
Keakraban yang terjalin di antara Kasniza dan Nenek Romlah mengantarkan cucu Nenek Romlah, Dudung (Muhammad Zidan), untuk bertemu Kasniza. Dari pertemuan itu, Kasniza mengetahui jika Nenek Romlah memiliki keinginan untuk menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci.
Kasniza pun bertekad untuk membantu Nenek Romlah mewujudkan mimpinya itu. Tanpa pikir panjang, Kasniza mengajak Dudung untuk bekerja keras agar dapat mewujudkan impian Nenek Romlah.
Synopsis:
“Guru Ngaji” bercerita tentang dilema Mukri (Donny Damara) yang selama ini ikhlas mengajar ngaji tanpa mengharap balasan materi. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Mukri terpaksa mengambil pekerjaan sampingan sebagai badut. Ini dilakukan tanpa sepengetahuan keluarganya dan segenap warga Desa Tempuran, sebab Mukri merasa guru ngaji adalah pekerjaan yang sakral dan terhormat. Bertolak belakang dengan profesinya sebagai badut yang justru memancing tertawaan orang. Suatu saat, Mukri menerima permintaan Pak Kepala Desa (Tarzan) untuk tampil memimpin doa di ulang tahun anaknya. Namun, di sisi lain, ia juga mendapat tawaran manggung menjadi badut di acara yang sama. Akankah rahasia yang selama ini Mukri simpan rapat-rapat terbongkar?
Sutradara: Jastis Arimba
Produser: Warna Pictures Pemain: Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, Hamas Syahid, Asma Nadia, Meyda Safira
'212: The Power of Love' berkisah tentang seorang jurnalis bernama Rahmat (Fauzi Baadila) yang memiliki sifat dingin dan sinis.
Suatu hari, Rahmat mendapat kabar bahwa sang ibu meninggal dunia. Dia pun pulang ke kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat, setelah 10 tahun merantau.
Setelah jenazah sang ibu dimakamkan, Rahmat mengetahui jika ayahnya, Ki Zainal, berniat akan melakukan konvoi dan long march dengan para santri untuk menghadiri aksi 2 Desember 2016 di Jakarta.
Rahmat pun berusaha membatalkan niat sang ayah karena dia khawatir aksi tersebut akan memicu kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa seperti peristiwa aksi Kerusuhan Mei 1998.
'212 The Power of Love' telah rilis di bioskop 9 Mei lalu.
Jenis Film : Drama
Produser : Santi Muzhar
Sutradara : Findo Purwono Hw
Penulis : Oka Aurora
Produksi : Prized Productions, Vinski Production
Durasi : 93 menit
Pemain :
Natasha Rizky, Miller Khan, Andi Arsyil, Merdi Octav, Keke Soeryo, Le Roy Osmany, Rheina Ipeh
Sinopsis :
TRAUMA masa kecil karena ditinggal ayahnya membuat Fisya (Natasha Rizki) sulit percaya pada laki-laki. Namun sejak kecil, ia menyimpan rasa untuk JIDAN (Andi Arsyil ), tetangga lamanya. Ia selalu berharap dilamar Jidan. Tapi Jidan malah melamar SALSYA (Merdi Octav), kakak Fisya, yang seorang dokter. Fisya patah hati tapi tak mau bilang apa-apa. Fisya tahu ia tak mungkin menyakiti kakaknya.
Tak sengaja Fisya bertemu ALIF (Miller Khan) dalam sebuah kecelakaan. Fisya berusaha menyelamatkan seorang gadis kecil yang menjadi korban, tapi Alif yang ternyata seorang dokter berusaha mengambil alih niat baik Fisya. Tanpa Fisya sadari ponselnya terbawa Alif. Mau tak mau pertemuan mereka tak bisa dihindari. Apalagi ketika ia tahu kalau Alif mendadak menjadi salah satu dosen pengganti di kampusnya.
Imej Alif sebagai dokter berkarakter dingin dan tegas selalu membayangi Fisya dan itu membuatnya kesal. Tak jarang, Alif sering membuat Fisya malu di hadapan teman-temannya. Perjumpaan berkali-kali secara tak sengaja ternyata membuat Alif jatuh cinta kepada Fisya. Namun, ia simpan dalam-dalam perasaannya karena ia tahu Fisya masih mencintai Jidan.
Sampai suatu saat dalam kondisi ayah Fisya sakit keras, ayahnya berkata pada Fisya bahwa Alif telah datang untuk melamar Fisya. Fisya dilema. Apakah ia harus menerima Alif demi kebahagiaan ayahnya atau tetap memelihara perasaaan cintanya kepada Jidan yang selama ini ia cintai?
Beda Sinema kalau membuat film religi memang mengandung muatan moral yang sangat luar biasa.
Pada intinya, Saya senang dengan alur cerita 5 PM atau disingkat #5PM
Alur cerita #5PM hendak mengajak penonton untuk kembali ke Masjid.
Jika kamu sedang senang hati, pergilah ke Masjid.
Jika kamu sedang bersedih hati, pergilah ke Masjid.
Jika kamu menghadapi masalah? Pergilah ke Masjid
Shalat, berkumpulah di Masjid. Niscaya hatimu akan damai.
Film religi ini mengisahkan lima pemuda yang galau dan kemudian menemukan semua yang dicarinya, setelah melalui proses yang cukup panjang di Masjid. Diselingi oleh humor , drama dan juga duka .
Film religi ini, mengajak kita semua untuk kembali kepada Allah SWT.
Apabila kamu mencari sebuah film yang dapat dibahas dan direnungkan seara bersama-sama, dengan pesan moral menghargai perbedaan dan kasih sayang terhadap sesama manusia , maka film ini cocok untuk kamu. Enak dan cocok ditonton bersama-sama teman pengajian, sebagai tontonan bersama setelah Shalat , untuk mengingatkan kembali hakikat manusia terhadap Allah SWT
Sayangnya , dalam film berdurasi 98 menit ini, sangat padat hendak menceritakan kisah hidup lima sahabat bersama Bewok. Sehingga terasa alur ceritanya menjadi melebar dan harus dipikirkan terlebih dahulu lompatan scene filmnya sedang menceritakan sahabat yang mana saat gambar muncul dan mulai bercerita,
Itulah kesan yang saya tangkap , setelah selesai menonton film 5 Penjuru Masjid yang kemudian disingkat menjadi #5PM. Namun dengan jam pembuatan film yang semakin bertambah, semoga film yang dibuat berikutnya oleh Beda Sinema akan menjadi lebih bagus lagi dan banyak diputar di bioskkop .
Bagi yang ingin menonton film religi yang berbeda, dapat menjadikan film #5PM sebagai alternatif.
Sinopsis
Bewok, seorang maling kotak amal yang sudah berhasil diselamatkan oleh lima sahabat dari murkanya amukan warga. Di masjid Bewok merasa penasaran dengan banyak hal yang telah dilakukan Budi, Lukman, Abian, Gani dan Usman. Di tengah itu, ada sosok orang yang muncul serta membuat keberadaan lima sahabat dan Bewok selalu dipertanyakan.
Sutradara:Humar Hadi
Penulis:Umank Ady
Bintang Film:Zikri Daulay,Aditya Surya Pratama'Faisal Azhar Harahap,Zaky Ahmad Rivai,Alfie Affandi
Produser:Izharul Haq
Produksi:Bedasinema Pictur
Momen perayaan lahirnya Nabi Muhammad dirayakan oleh umat Muslim dengan beragam cara. Salah satunya Chanex Ridhall Pictures yang merilis trailer pertama dari film drama religi berjudul ‘Guru Ngaji’ pasca momen perayaan Maulid Nabi, Selasa (5/12) melalui kanal Youtube mereka. Momen ini dianggap sangat pas dengan pesan dan semangat yang ditanamkan pada film ‘Guru Ngaji’.
Diproduseri oleh Rosa Rai Djalal yang sebelumnya menjadi Produser Film ‘Iqro: Petualangan Meraih Bintang’, trailer film ini menuturkan kisah tentang Mukri (Donny Damara) seorang guru ngaji di Desa Tempuran yang bekerja sampingan sebagai badut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sehari-hari, Mukri menjadi badut bersama Parmin (Ence Bagus), lelaki sederhana yang bercita-cita untuk membeli motor agar bisa mendapat perhatian Rahma (Andania Suri), perempuan Idamannya yang juga disukai oleh Yanto (Dodit Mulyanto).
Menurut Produser Film ‘Guru Ngaji, Rosa Rai Djalal, pihaknya sengaja merilis trailer pertama Film ‘Guru Ngaji’ pada momen perayaan Maulid Nabi terutama karena film ini erat kaitannya dengan islam serta didedikasikan bagi para Guru Ngaji di seluruh Indonesia. “Film ini mengangkat suka dan duka dalam keseharian seorang Guru Ngaji. Sebuah drama yang religius yang dibalut dengan sentuhan komedi sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Pada perayaan Maulid Nabi tahun ini, kami merilis trailer film yang kami dedikasikan untuk seluruh Guru Ngaji di Indonesia.”
“Kami ingin memotret kehidupan sehari-hari seorang guru ngaji dengan berbagai masalah yang mereka alami. Cerita yang ditampilkan dekat dengan penonton dan mungkin saja dialami oleh sebagian guru ngaji. Banyak sekali yang bisa diambil dari film ini terutama pesan moral tentang keikhlasan, istiqomah, kejujuran, persahabatan dan toleransi. Kami berharap film ‘Guru Ngaji’ bisa mendorong kita semua untuk semakin mengapresiasi para guru ngaji,” tutur Rosa.
Skenario film ‘Guru Ngaji’ ditulis oleh Alim Sudio bersama dengan Erwin, yang juga bertindak sebagai Sutradara. Aktor pendukung yang terlibat antara lain Dewi Irawan, Endah Laras, Ence Bagus, Verdi Solaiman, dan aktor cilik pendatang baru, Akinza. Film ini rencananya akan tayang di bioskop pada awal tahun 2018.
instagram.com/mdpictures_official
Kamu yang senang dengan kisah romantis bakal dimanjakan dengan kehadiran film Ananta. Film yang mendapuk Michelle Ziudith sebagai pemeran utama ini akan membuatmu baper deh. Film ini berkisah tentang seorang bernama Tania, gadis cantik namun sulit bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
Kehidupan Ananta kemudian berubah setelah bertemu cowok polos dan lugu, Ananta. Kisah cinta pertemuan dua karakter yang berbeda ini akan tersuguh manis di layar lebar. Bakal tayang berbarengan dengan Sajen 3 Mei 2018, jangan lupa bawa tissue ya, sepanjang film kamu bakal berurai air mata.
instagram.com/212movies
Mendekati bulan Ramadan, film Tanah Air dibanjiri genre religi. Salah satunya yang patut untuk ditonton adalah 212 The Power of Love. Film garapan Warna Pictures ini diangkat dari kisah nyata yang berlatarkan peristiwa aksi 212 di Monumen Nasional.
Film yang dibintangi Fauzi Baadilla ini akan menghadirkan pesan-pesan moral seperti cinta kasih terhadap sesama manusia dan ke Sang Pencipta. Wah, bisa ditonton bareng keluarga besar nih.
Film Drama Indonesiay "Kalam Kalam Langit" bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai nilai Islam yang kuat di wilayah Lombok Barat. Niat baik itu ditentang oleh ayahnya yang selalu memberi peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren serta mendapatkan timbal balik berupa hadiah. Ja'far yang yang masih keci justru mendapatkan beasiswa dari sebuah produk yang ditawarkan pesantren.
Jafar kecil tumbuh hingga dewasa terus memperjuangkan cita cita dan cintanya. Ditengah tengah kehidupan pesantren dengan beragam karakter yang dimiliki oleh penghuninya. Santri pun juga manusia, ada saja manusia yang nyeleneh, tega menyuap untuk kepopularitasannya dan meggapai apa yang ia harapkan menjadi juara MTQ.
Review Film Kalam Kalam Langit (2016)
Film Religi Indonesia "Kalam alam Langit" merupakan film yang sangat menyentuh hati, dengan nilai religius yang terkandung didalamnya dapat membuat bagi siapa saja yang menontonnya dengan penuh khayat pasti bercucuran air mata. Perjuangan Ja'far demi meraih juara MTQ dilalui dengan banyaknya problematika masalah dan ada pihak pihak lain yang melakukan caar kotor demi meraih kemenangan.
Detail Cast and Crew Film Kalam Kalam Langit (2016)
Genre : Drama, Religi Produser : Dian Permata Purnamasari, Asar Amar, Dhoni Ramadhan Sutradara : Tarmizi Abka Penulis Novel : Pipiet Senja Penulis Skenario : Faozan Rizal Pemain Film :
Elyzia Mulachela Dimas Seto sebagai (Ja'far Dewasa) Mathias Muchus sebagai (Ayah Ja'far) Ibnu Jamil Henidar Amroe Herichan Fauzan Smith Meriza Febriani Ade Firman Hakim
Tanggal Tayang : TBA 2016 Rumah Produksi : Putaar Films Production MPAA : Bimbingan Orang Tua Durasi : Menit Language ; Indonesia Negara : Indonesia
Kisah filmnya berpusat pada tiga orang santri muda di sebuah pondok kecil di wilayah Bantul, Yogyakarta, yakni Huda (Saputra), Rian (Pratama), Syahid (Bagus). Mereka bertiga bersahabat baik serta memilikinya mimpi dan harapannya masing-masing. Huda ingin mencari ibundanya ke ibukota yang telah beberapa tahun meninggalkannya; Rian ingin melanjutkan usaha video syuting almarhum ayahnya; sementara Syahid dipusingkan dengan biaya pengobatan ayahnya yang tengah dirawat di rumah sakit. Ketiganya lalu menemukan jalannya masing-masing. Huda bertemu seorang penyanyi dangdut lokal bernama Dona Satelit (Sastrowardoyo) yang membantu mencarikan lokasi ibunya, Rian mendapat hadiah dari ibunya sebuah handycam yang ia gunakan untuk merekam keseharian mereka di pondokan, sementara Syahid yang frustasi dengan biaya pengobatan ayahnya memilih untuk bergabung bersama kelompok Islam radikal dengan skema besarnya.
Kisah filmnya sejak awal hingga akhir berjalan datar (menjemukan) tanpa adanya konflik yang berarti. Sineas tampak sekali hanya ingin menggambarkan keseharian para santri di pesantren namun tanpa adanya konflik yang menonjol menjadikan semua kisahnya menjadi serba tanggung. Tiga plot utamanya juga tidak mampu digali lebih dalam sehingga sulit untuk bersimpati dan berempati dengan tokoh-tokohnya. Masalah yang dihadapi Huda, Rian, dan Syahid dipaparkan begitu dangkal sehingga tidak memberi kesan bagi kita sebagai problem besar bagi mereka. Konflik cerita juga berjalan sendiri-sendiri, tidak berkaitan satu sama lain dengan eksekusi akhir yang terlalu mudah bahkan cenderung konyol. Tulisan (harapan) mereka di dinding belakang pesantren yang menjadi kunci plotnya juga tidak mendapatkan porsi yang memadai.
Konflik Syahid misalnya, sebenarnya berpotensi bisa digali lebih dalam namun informasi cerita dipaparkan begitu minim melalui beberapa adegan saja, yakni ayahnya yang sakit, “bule kafir” yang membeli tanah ayahnya, serta hubungan Syahid dengan kelompok Islam garis keras dengan skema besar yang tak jelas. Semuanya menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu kita jawab. Syahid yang telah bulat tekadnya untuk mati syahid (mungkin niatnya meledakkan diri bersama si bule) mendadak sirna setelah semua biaya pengobatan ayahnya ditanggung si bule. Masak sih masalah hidup atau mati bisa ditinggalkan semudah ini, organisasi teroris macam apa ini? Lalu aneh sekali jika Syahid tidak mencari tahu siapa orang yang telah menolong ayahnya. Selesai masalah ayahnya, mendadak Romo kyai, Huda, Rian, serta Syahid ditangkap polisi dan dituduh sebagai teroris. Apa pula ini? Kenapa hanya mereka yang ditangkap? Siapa yang mau percaya jika polisi melakukan tindakan gegabah seperti ini tanpa penyelidikan selayaknya?
Sementara masalah-masalah lain yang muncul, seperti skandal hubungan sesama jenis, ambisi Dona, asmara putri pak kyai, dan lainnya juga hanya tampak sebagai tempelan (kadang dipaksakan) tanpa bisa menyatu dengan plot keseluruhan. Kisah asmara antara Huda dan Dona yang pastinya diharapkan penonton muncul ternyata hanya sebatas angin lalu. Seluruhnya masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab akibat motif serta logika cerita yang lemah.
Tidak kalah buruknya adalah pencapaian teknisnya. Satu aspek yang boleh dibilang paling buruk (kasar) adalah pencapaian editingnya. Penyisipan beberapa adegan/shot pada alur cerita yang tengah berjalan kerap tak jelas maksud dan fungsinya. Pada sebuah adegan mendadak disisipi shot ketika Dona menelpon rekannya di Jakarta untuk meminta mencarikan alamat ibunda Huda. Kenapa shot ini tidak disajikan lebih awal? Apakah ini berarti sebelumnya Dona memakai uang Huda untuk kepentingannya? Semua masih tak jelas. Pada satu adegan ketika Rian menonton layar tancap di pasar malam mendadak dipotong (crosscutting) secara kasar dengan shot pelecehan seksual seorang santri senior pada seorang santri muda. Coba apa hubungan dua shot ini? Sineas juga berulang-kali bereksperimen menggunakan teknik long take, seperti pada adegan di depan makam yang memperlihatkan empat karakter bergantian dalam satu shot. Sebuah usaha inovatif yang tampak janggal (out of tone) terlebih pada satu momen frame dibiarkan kosong beberapa saat. Coba apa bedanya jika digunakan transisi shot biasa?
Naskah yang lemah serta terlalu dangkal menjadi kunci utama kegagalan 3 Doa 3 Cinta. Naskah yang buruk juga turut memperlemah penampilan para pemainnya. Tiga pemain utamanya tampak jelas terlalu tua untuk peran mereka. Sang bintang, Dian Sastrowardoyo yang kali ini tampil beda hanya muncul sebagai pemanis belaka. Latar pondokan yang kecil dan sepi juga sama sekali tidak mampu menghadirkan suasana pesantren yang diharapkan. Pesan moral? Hhmm… Anda bisa beri komentar sendiri. Sungguh amat disayangkan mengingat para pemain serta kru yang terlibat dalam film ini adalah orang-orang yang dianggap telah mapan di industri film kita. Sebagai kata penutup, 3 Doa 3 Cinta rasanya lebih pantas dan banyak bermanfaat jika dipertontonkan (road show) untuk murid-murid pesantren tingkat dasar dan menengah. Sebagai pecinta film, penulis menganggap film ini adalah satu bentuk pembodohan penonton serta merendahkan medium film itu sendiri.