Film Sabyan: Menjemput Mimpi merupakan film yang disutradarai oleh Amin Ishaq dan diproduksi oleh Millenia Pictures dan Max Pictures. Film ini dibintangi oleh Nissa Sabyan, Anisa Rahman, Ayus, Kamal, Tubagus Syaifulloh, Sofwan Yusuf, Dicky Chandra dan Cici Tegal. Sabyan: Menjemput Mimpi menceritakan perjuangan grup musik Sabyan menjadi grup musik popular di Indonesia. Melalui film ini bakal dikisahkan awal mula terbentuknya Sabyan dan perjuangan dari para personelnya. Baca juga: Sinopsis Film Bulan Terbelah di Langit Amerika, Kisah Pasca-Tragedi 9/11 Sabyan mulai dikenal publik lewat video musik yang melantunkan syair shalawat yang viral di YouTube. Genre musik yang dibawakan oleh grup musik ini tak biasa, tapi karena kegigihan semua anggota, mereka mencapai kesuksesan. Ditambah lagi, suara sang vokalis Nissa yang merdu dan khas, membuat Sabyan mempunyai banyak penggemar. Setelah kesuksesannya mencuri hati para penggemar, Nissa akhirnya bisa membiayai sekolahnya sendiri. Baca juga: Sinopsis Film Minions, Kisah Awal Para Minion Mencari Majikan Jahat Mimpi para personel Sabyan tak luput dari dukungan orang terkasih dan para fans setia. Layaknya sebuah grup musik yang memiliki anggota dengan pemikiran masing-masing, konflik internal maupun eksternal tidak luput dari kehidupan para personel Sabyan. Bagaimana cara mereka tetap konsisten dan bertahan sampai sekarang? Film Sabyan: Menjemput Mimpi dapat disaksikan di SCTV, Selasa (26/5/2020), pukul 17:30 WIB.

Film dibuka dengan tiga keluarga di masing-masing daerah yang memaksa anaknya untuk masuk pesantren. Mereka adalah Yos pemuda asal Papua, Sultan asal Makassar, dan Dul asal Jakarta. Mereka harus hijrah sementara waktu ke sebuah pesantren di Makassar.

Kenapa harus Makassar yang diambil sebagai latar? Itu nggak pernah dijelaskan dengan baik.

Ya, saya tahu film ini dikerjakan oleh sineas Makassar. Tapi dalam cerita film, penulis skenario tetap harus memberi alasan kenapa para tokoh harus mondok (baca: menimba ilmu) di Makassar. Barangkali hanya Sultan yang diberikan cukup motivasi. Sementara karakter lainnya hanya mendapat paksaan orangtua mereka, sama halnya seperti film ini yang memaksa saya untuk menerima kepergian mereka ke Makassar tanpa alasan jelas.

Setiba di sana, mereka menjalin persahabatan dengan Aso, pemuda lokal yang gemar menonton sepak bola. Kegemaran Aso terhenti tatkala ia masuk pesantren. Dengan aturan yang ketat, tentu Aso nggak bisa lagi sesuka hati menonton klub kesayangannya bermain di stadion.

Lalu apa hubungan Aso dengan ketiga sahabatnya itu? Apakah mereka juga sama-sama suporter sepakbola yang senasib dengan Aso? Jawabannya: tidak! Sedari awal karaterisasi para tokoh utama nggak dijelaskan. Hanya Dul yang diperlihatkan sebagai suporter sepakbola.

 
Copyright © 2015 FILM INDONESIA